Cerita Coach Oyok Juara 1 ITB Ultra Relay 4

Alhamdulillah. Itu kata pertama yang keluar dari mulut saya waktu melewati garis finis di Bandung. Kami juara 1 kategori Podium Open Relay 4 All Gender di ITB Ultra Marathon Jakarta–Bandung sejauh 180 km. Kalau ingat lagi semua yang terjadi hari itu, rasanya kata lain tidak ada yang lebih pas.
Pertama Kali Ikut Relay
Bentuk lombanya sederhana di atas kertas. Satu tim berisi empat pelari, masing-masing lari 45 km. Pelari pertama berangkat dari Jakarta ke Pos 2. Dari sana pelari kedua lanjut ke Pos 3. Pelari ketiga membawa estafet ke Pos 4. Di Pos 4 saya menunggu untuk berlari di segmen terakhir menuju finis.
Ini pertama kalinya saya ikut lomba lari sistem relay. Ternyata rasanya beda sekali dengan lomba individu. Di lomba sendiri, kita yang pegang kendali dari awal: kapan mulai, kapan tancap gas, kapan menahan. Di relay, saya harus menunggu. Saya menunggu pelari pertama sampai di Pos 2, lalu pelari kedua sampai di Pos 3, lalu pelari ketiga datang ke pos saya.
Jadi pelari terakhir ternyata tidak gampang. Bukan cuma soal jarak. Saya membawa hasil kerja keras tiga teman yang sudah berlari ratusan kilometer sebelum saya, dan saya yang harus menuntaskannya.
Mulai Lari Jam 9 Pagi di Bawah Terik Matahari
Pelari ketiga tiba di Pos 4 sekitar pukul 09.00 pagi. Saya ambil alih estafet dan mulai berlari.
Matahari sudah tinggi dan cuacanya panas sekali. Dari awal saya sadar ini bukan kondisi ideal untuk lari 45 km. Tapi tidak ada pilihan lain. Waktunya sudah datang, jadi saya harus jalan.
Tantangannya bukan cuma panas. Jalur yang saya lewati adalah Padalarang–Bandung, salah satu jalur paling padat di Jawa Barat, dan pagi itu jalanan macet. Kendaraan berderet, asap knalpot di mana-mana, dan ruang untuk pelari hampir tidak ada.
Supaya tidak terhambat, saya terpaksa naik-turun trotoar berkali-kali. Naik ke trotoar waktu jalan terlalu padat, turun lagi waktu trotoar terputus atau terhalang. Ritmenya terus terganggu. Setiap naik-turun itu pelan-pelan menguras tenaga kaki, dan di jarak sejauh ini hal kecil seperti itu lama-lama terasa berat.
Kilometer 35: Badan Mulai Protes
Sampai kilometer 30-an saya masih bisa jaga ritme. Begitu masuk kilometer 35, badan mulai protes.
Panas yang terus-menerus membuat saya mulai merasakan tanda-tanda dehidrasi. Lalu yang paling ditakuti pelari jarak jauh datang juga: kaki saya mulai keram.
Kalau keram sudah datang, memaksa diri bukan pilihan bijak. Saya ubah strategi supaya tetap bergerak maju tanpa membuat kaki makin parah. Polanya jogging pelan 1 km, lalu jalan 200 meter, diulang terus.
Satu kilometer jogging, dua ratus meter jalan. Satu kilometer lagi, dua ratus meter lagi. Pola itu saya jaga dari kilometer 35 sampai kilometer 43. Delapan kilometer yang rasanya jauh lebih panjang dari angkanya. Di fase ini yang bekerja bukan lagi kaki, tapi kepala. Saya terus mengingatkan diri bahwa tiga teman sudah menyelesaikan bagian mereka, dan sekarang tinggal saya.
Dua Kilometer Terakhir dan Minuman dari Warung
Di kilometer 43, kurang lebih dua kilometer sebelum finis, badan saya sudah memberi tanda dehidrasi berat. Saya tahu kalau dipaksa terus tanpa cairan, dua kilometer terakhir itu bisa jadi yang paling berbahaya.
Jadi saya ambil keputusan yang mungkin terdengar sepele: berhenti sebentar di warung pinggir jalan dan beli minuman.
Keputusan kecil itu ternyata menyelamatkan. Begitu cairan masuk, badan terasa jauh lebih segar. Kaki memang masih berat, tapi energi dan semangat saya kembali. Pelajarannya, di lomba ultra kadang keputusan paling penting bukan soal secepat apa kita lari, tapi kapan kita mau berhenti sebentar untuk merawat badan sendiri.
Garis Finis dan Orang-Orang yang Menemani
Sekitar pukul 13.00 siang, saya akhirnya sampai di garis finis.
Saya tidak sendirian di meter-meter terakhir itu. Pak Miftah, Hikal, Pak Seven, dan istrinya ikut mengiringi saya sampai finis. Kehadiran mereka benar-benar berarti. Setelah empat jam berlari di bawah terik matahari, menembus macet, dan melawan keram, melihat wajah-wajah yang dikenal dan mendengar dukungan mereka adalah suntikan semangat terakhir yang saya butuhkan.
180 km, empat pelari, satu tim, dan hasilnya juara 1.
Terima Kasih, DKRC
Medali ini bukan milik saya sendiri. Ini milik tiga rekan yang sudah berlari sebelum saya, milik teman-teman yang mendampingi di jalan, dan milik keluarga besar DKRC yang selama ini latihan bareng, saling mendorong, dan saling menguatkan.
Dari lomba ini saya belajar bahwa lari, yang sering dianggap olahraga individu, bisa jadi kerja tim yang sangat kuat. Satu orang tidak akan sampai sejauh ini tanpa yang lain.
Terima kasih, DKRC. Sampai jumpa di garis start berikutnya. 🏃♂️
#GERAKINBARENG
Want to run with us?
Join for Free